Konsekuensi Syahadat Kita

Kalimat syahadat terdiri dari dua klausa. Betapa ringan kita ucapkan bahkan mungkin kita tidak sadar mengucapkannya sehari minimal 5 kali. Namun, ternyata makna dan konsekuensi dari sebuah ucapan syahadat itu sangat banyak dan mendalam. Begitu banyak sekali sehingga di artikel ini, saya hanya sanggup membahas tentang syahadat ilahiyyah-nya saja dan itupun hanya konsekuensinya saja serta tidak semuanya (dua konsekuensi saja). Bahkan saya hanya membahas kalimat thayyibah-nya saja [yang merupakan bagian syahadat illahiyyah]. InsyaAllah kalau ada rezeki, saya akan melanjutkan pembahasan ini.

Syahadat ilahiyyah adalah kalimat asyhadu allaa ilaaha illallah. Terdapat kalimat paling agung dan paling utama di dalamnya yaitu Laa ilaaha illallah. Kalimat ini memiliki banyak nama namun yang paling umum kalimat ini dikenal dengan nama kalimat thayyibah yang artiya “tiada Illah selain Allah”. Mengapa bukan “Tuhan” tapi “Illah”? Karena makna kata “Tuhan” teryata tidak cukup untuk menampung makna “Illah” dalam bahasa Arab. Makna Illah ini sangat banyak, dari yang saya pelajari setidaknya Al-Qur’an menerangkan 16 makna “Illah”; misalnya Kholiq (Pencipta; lihat QS 25:2), Maalik (Raja; lihat QS 62:1 dan QS 36:83) dan Aamir (Pemimpin; lihat QS 2:257). Sehingga, ketika kita mengucapkan Laa ilaaha illallah maka kita juga mengucapkan Laa kholiq illallah, Laa malik illallah dan seterusnya. Mari kita membahas beberapa makna lainnya.

1. Laa ilaaha illallah = Laa raaziqo illallah

Tidak ada pemberi rezeki selain Allah. Di sini kita mendapatkan kosakata Arab lainnya yaitu rezeki. Dalam bahasa Indonesia sehari-hari kata ini telah mengalami reduksi makna menjadi sebatas “uang” atau “harta”. Ini adalah kesalahan fatal sebagian muslim [khususnya di Indonesia] dalam memahami Laa raaziqo illallah. Kesehatan, anak, waktu luang yang bisa dimanfaatkan, ilmu yang mungkin kita dapat dari kejadian di jalan dan lainnya semuanya adalah rezeki.

Seorang yang paham Laa raaziqo illallah akan menyadari bahwa banyaknya ilmunya adalah rezeki yang diberikan Allah kepadanya dan akan memanfaatkan ilmunya untuk berkontribusi bagi umat. Ialah yang butuh megnkontribusikan ilmunya karena sebagai rasa syukur kepada Allah. Dan banyak lagi contoh konsekuensi pemahaman terhadap Laa raaziqo illallah.

Sebelum paham makna ini, kadang-kadang saya tidak memanfaatkan kesehatan dan waktu luang dengan baik. Saya juga jarang untuk ingat mensyukuri ilmu yang saya dapat. Padahal itu semua adalah rezeki. Menyia-nyiakannya termasuk prilaku tidak bersyurkur atas rezeki yang Allah berikan karena cara paling substansial untuk bersyukur adalah dengan memanfaatkannya di jalan Allah.

2. Laa ilaaha illallah = Laa malik illallah

Tidak ada pemilik selain Allah.

Mengapa orang susah mengeluarkan uang untuk bersedekah? Karena ia masih menganggap uang itu miliknya. Mengapa orang tua susah merelakan anak perempuannya dibawa oleh suaminya? Karena ia masih mengira anak itu miliknya. Mengapa banyak muslim yang takut berangkat ke medan jihad? Karena ia masih berpikir tubuhnya adalah miliknya. Lihat QS 4:131-132 berikut:

“(131) Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah [360] dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. (132)Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.”

Seorang yang paham Laa malik illallah tidak ragu memasukkan pecahan uang yang paling besar yang ada di dompetnya ke kotak infaq. Ia tidak sayang menghabiskannya di jalan Allah karena sesunggunya Allah-lah pemilik semua uang itu. Orang tua yang paham Laa malik illallah pasti merelakan anak perempuannya kepada suaminya karena Sang Pemilik telah mensyariatkan bahwa ketika anak perempuan dinikahkan, ia berpindah tangan dari si orang tua kepada sang suami. Seorang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah seharusnya menyambut panggilan jihad tanpa gentar, karena seruan jihad adalah seruan Sang Pemilik tubuhnya. Tidak perlu ragu menyerahkan barang milik Sang Pemilik ketika Ia telah menyerunya. Bahkan ketika sudah paham Laa malik illallah aneh rasanya bila kita gentar menyambut panggilan jihad, karena artinya kita menolak permintaan Sang Pemilik atas barang milik-Nya sendiri.

Sebelum paham makna Tidak ada pemilik selain Allah, saya termasuk orang yang ragu bersedekah banyak. Beberapa kali saya juga tidak bisa merelakan barang-barang saya yang diambil orang. Padahal tadinya saya meminjamkan barang-barang itu ikhlas karena Allah. InsyaAllah setelah paham makna Laa malik illallah saya tidak ragu untuk bersedekah banyak, tentunya dalam koridor rasionalitas. Saya juga insyaAllah tidak ragu meminjamkan barang saya khususnya kepada saudara-saudara seasrama, tidak khawatir nasibnya di tangan mereka, namun tentu saja saya harus mengingatkan mereka untuk menjaganya agar mereka menaruh perhatian terhadap amanah yang mereka pinjam itu. Saya juga insyaAllah mengikhlaskan barang-barang yang dicuri. Toh itu semua milik Allah. Tentu saja pemahamah terhadap Laa malik illallah tidak harus menghilangkan pembelajaran/evaluasi saya agar lebih berhati-hati agar tidak kecurian lagi.

6 Komentar

  1. fitrirachmawati berkata,

    22 Desember 2009 pada 5:26 pm

    mampir ni sani.. :grin:

    hmm.. ini toh notes yang kau katakan waktu itu..
    ~tukeran link ya sani..

    • Mohamad Sani berkata,

      22 Desember 2009 pada 8:09 pm

      What the kamsud? Kapan..? Ane bilang apa…?
      Boleh, sudah ane masukin blog Fitri di blogroll :)

  2. mamaku sayang berkata,

    22 Desember 2009 pada 10:18 pm

    mau tanya nih ustadz…
    ada kata2 yang dicoret yaitu: “khususnya kepada saudara-saudara seasrama”
    maksudnya apa ??

  3. fitrirachmawati berkata,

    24 Desember 2009 pada 8:01 pm

    yang itu lho sani, pas fitri bikin notes kan sani komen trus nunjukin link yang isinya merujuk ke blog ini..

  4. nahdatul jannah berkata,

    19 Oktober 2010 pada 4:13 pm

    apakah jika orang sudah mengucapkan 2X masyahadat dan meyakini syahadat i2 sendiri sudah disebut yakin akn kberadaan tuhanx…???


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.